Tampilkan postingan dengan label inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label inspirasi. Tampilkan semua postingan

PILPRES....Presiden Terpilih????



Sekarang tema yang sedang hangat diperbincangkan adalah tentang pemilihan Presiden kita yang akan menjabat selama 5 tahun mendatang..

Hmmm….setelah secara tidak sengaja membuka salah satu file yang pernah diberikan oleh kakak saya yang berkuliah di Bandung agak menggelitik diri saya untuk mengupload tulisan ini di blog saya…

Sempat membuat saya agak takjub setelah membaca ramalan satrio piningit yang slama ini banyak sekali diperbincangkan dan dielu-elukan akan muncul sebagai sosok seperti apakah yang akan memimpin bangsa Indonesia ini menjadi bangsa yang mencapai jaman keemasannya dan diharapkan membawa kemakmuran bagi rakyatnya…

Mungkin keinginan rakyat awam sungguh sangat sederhana, mereka hanya berharap bahwa Presiden kita selanjutnya akan membawa bangsa Indonesia ini ke arah yang lebih baik, ya…setidaknya rakyat merasa aman dan makmur…


Baiklah mungkin anda penasaran dengan karya R.Ng.Ronggowarsito prediksi Satrio Piningit yang ditafsirkan banyak kalangan yang akan muncul sebagai tokoh pimpinan serta memerintah dibumi Nusantara ini,yaitu :

1. SATRIO KINUNJORO MURWO KUNCORO.

Tokoh pemimpin yang akrab dengan penjara (Kinunjoro), yang akan nembebaskan bangsa ini dari belenggu kepenjaraan (penjajah) dan kemudian akan menjadi tokoh yang sangat tersohor diseluruh jagad (Murwo Kuncoro).

Tokoh yang dimaksud ini 'ditafsirkan' sebagai Soekarno,Proklamator dan Presiden Pertama Republik Indonesia yang juga Pemimpin Besar Revolusi dan Pemimpin Rezim Orde Lama. Berkuasa tahun 1945-1967.

2. SATRIO MUKTI WIBOWO KESANDUNG KESAMPAR.

Tokoh pemimpin yang berharta dunia (Mukti) juga berwibawa/ditakuti (Wibowo), namun akan mengalami suatu keadaan selalu dipersalahkan,serba buruk,sumber kesalahan (Kesandung Kesampar).

Tokoh yang dimaksud ini 'ditafsirkan' sebagai Soeharto, Presiden Kedua Republik Indonesia dan Bapak Pembangunan Kesejahteraan Buruh dan Petani (banyak pabrik berdiri dan swasembada pangan) Pemimpin Rezim Orde Baru yang ditakuti. Berkuasa tahun 1967-1998.

3. SATRIO JINUMPUT SUMELA ATUR.

Tokoh pemimpin yang diangkat/terpungut (Jinumput) akan tetapi hanya dalam masa jeda atawa transisi atawa sekedar menyelingi saja (Sumela Atur).

Tokoh yang dimaksud 'ditafsirkan' sebagai BJ.Habibie, Presiden Ketiga Republik Indonesia. Berkuasa tahun 1998-1999.

4. SATRIO LELONO TAPA NGRAME.

Tokoh pemimpin yang suka mengembara/keliling dunia (Lelono) akan tetapi juga seseorang yang mempunyai tingkat kejiwaan Relegius yang baik/Rohaniawan (Tapa Ngrame).
Tokoh yang dimaksud 'ditafsirkan' sebagai KH.Abdurrahman Wahid, Presiden Keempat Republik Indonesia. Berkuasa tahun 1999-2000.

5. SATRIO PININGIT HAMONG TUWUH.

Tokoh yang muncul membawa kharisma keturunan dari moyangnya (Hamong Tuwuh).

Tokoh yang dimaksud 'ditafsirkan' sebagai Megawati Soekarnoputri, Presiden Kelima Republik Indonesia. Berkuasa tahun 2000-2004

6. SATRIO BOYONG PAMBUKANING GAPURO.

Tokoh pemimpin yang berpindah tempat (Boyong) dan akan menjadi peletak dasar sebagai pembuka gerbang menuju tercapainya jaman keemasan (Pambukaning Gapuro).

Banyak yang 'menafsirkan' tokoh tersebut adalah Susilo Bambang Yudoyono,tokoh ini akan selamat memimpin bangsa ini dengan baik, JIKALAU MAU dan MAMPU mensinergikan dengan kekuatan Sang Satrio Piningit atawa setidaknya dengan seorang spriritualis SEJATI satrio piningit yang hanya memikirkan kemaslahatan (adil buat rakyat, adil terhadap agama, suku, ras) bagi seluruh Rakyat Indonesia sehingga gerbang mercusuar dunia akan mulai terbuka. Mengandalkan para birokrat dan teknokrat saja tidak akan tuntas menyelenggarakan pemerintahan dengan baik. Ancaman bencana alam, disintegrasi bangsa dan anarkhisme serta seiring bencana/prahara yang terus terjadi akan memandulkan kebijakan yang diambil.

7. SATRIO PINANDITIO SINISIHAN WAHYU.

Tokoh yang akan datang adalah pemimpin yang amat sangat Religius sampai sampai digambarkan bagaikan seorang Resi Begawan (Pinanditio) dan akan senantiasa bertindak atas dasar hukum/petunjuk Tuhan (Sinisihan Wahyu).

Dengan selalu bersandar hanya kepada Allah dan keimanannya yang mendalam, tindakan yang adil dan baik terhadap masalah suku, ras, dan agama serta kesejahteraan rakyat Indonesia maka bangsa ini akan menjadi jaman keemasan yang sejati.


Presiden kita akan menjadi seperti apakah nanti???? Apakah sesosok satrio piningit yang telah diramalkan tersebut akan menjelma sebagai Presiden terpilih kita nanti??? Ataukah tetap Bapak Susilo Bambang Yudhoyono??? Will see…..

Tulisan ini hanya sebagai wacana saja yang sepertinya sangat pas dengan momen yang sedang terjadi sekarang…

Tapi yang namanya manusia ya tetaplah manusia…segalanya yang menentukan tetaplah Tuhan…

Percaya atau tidak percaya tulisan ini hanya sebagai wacana saja…

Semoga hal yang menarik ini tidak sia-sia teronggok dalam lepi-q tersayang, maka saya share kepada teman-teman semua dengan menguploadnya di blog saya…




  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

BILA HARUS KEHILANGAN...

Seringkali sesuatu yang tadinya menjadi milik kita, atau sesuatu yang berada dekat dengan diri kita, menjadi begitu berharga ketika ia telah pergi, meninggalkan diri kita. Entah itu karena dipaksa, terpaksa, atau dengan sukarela. Seringkali, ketika ia masih menjadi bagian dalam hidup kita, ia tak mendapatkan penghargaan selayaknya, atau setidaknya mendapatkan perhatian cukup dari diri kita. Namun, bila ia telah pergi atau hilang, rasanya penyesalan yang terasa tak kan berkesudahan.

Contoh paling sederhana adalah ketika kita jatuh sakit, seringan atau seberat apapun, pastinya kita akan merindukan masa-masa ketika sehat. Betapa menderitanya bila harus menanggung sakit, sedangkan kita menyaksikan orang lain yang sehat dapat beraktivitas dengan optimal tanpa terganggu. Mungkin saja, ketika penyakit itu belum menghampiri, kita sering lupa untuk mensyukuri, betapa nikmat sehat itu mahal harganya.

Saat kedua orangtua masih menunggu kita pulang ke rumah, menjadi tempat berbagi yang setia, yang selalu siap mencurahkan segenap kasih sayang mereka dan memberikan segalanya untuk diri kita, kita tak menyadari bahwa ketika kelak mereka telah tiada, kita baru akan merasakan bahwa keberadaan mereka tak tergantikan.

Memiliki teman sungguh menyenangkan, dan masing-masing dari mereka pastinya meninggalkan bekas tersendiri dalam benak kita. Terhadap seorang teman dekat, kita mungkin berpikir bahwa senang sekali bila kebersamaan dengannya dapat terjaga sampai kapanpun. Namun kehidupan menjalankan skenario yang seringkali tak terduga. Kita tak akan pernah menyangka, kapan kebersamaan itu akan ternoda bahkan rusak oleh sesuatu yang menggangu dari luar, ataupun yang timbul dari dalam diri masing-masing. Atau perpisahan harus terjadi oleh sebab lainnya.

Bergelimang harta kekayaan tak selamanya akan membuat hidup seseorang menjadi tenang. Bahkan berbagai kekhawatiran akan muncul, dan kerap meresahkan. Takut kehilangan, sebab sekian banyak harta yang dimiliki telah dikumpulkan susah payah, dengan cara apapun. Demikian juga dengan keluarga, anak-anak dan istri atau suami. Mereka semua ibaratnya permata yang ingin selalu dijaga. Bayangkan, apabila suatu saat musibah datang, dan kita harus kehilangan salah satu atau bahkan semua.

Seringkali seorang manusia yang tidak bisa menghargai apa yang telah diamanahkan untuk menjadi miliknya, akan menyesal sejadi-jadinya bila kelak ia kehilangan sesuatu tersebut. Penyesalan itu berbuahkan air mata tak habis-habis serta kesal yang berkepanjangan, bahkan tak jarang yang lantas menyalahkan takdir bahkan menuding ketidakadilan Tuhan sebagai penyebab. Padahal Allah memberikan serta mencabut sesuatu dari kehidupan kita pasti disertai maksud dan tujuan di baliknya. Bila kita mau merenungkan segala kejadian yang dialami, lautan hikmah yang akan kita temui. Pasti terdapat hikmah besar di balik setiap peristiwa yang kita alami. Apakah itu akan membuat kita semakin dekat dengan-Nya, ataukah semakin jauh, hanya kita sendiri yang bisa menjawabnya.

Seseorang yang berusaha demikian keras untuk mempertahankan apa yang telah menjadi miliknya, baik dengan ‘menguncinya’ rapat-rapat, menyembunyikannya supaya tak hilang, atau menyewa sekian banyak bodyguard demi menyelamatkan harta miliknya itu, tetap saja ia tak bisa berbuat apa-apa bila harus kehilangan. Entah dengan cara apapun kehilangan itu terjadi.

Maka, bila kita harus kehilangan, apapun yang kita cintai, relakanlah ia. Sebab mungkin saja Allah mengambilnya dari kita sebab akan digantikan oleh yang lebih baik lagi. Yang jelas, Sang Khalik pasti memiliki rencana tersendiri bagi setiap hamba-Nya. Apa yang menurut diri kita baik, belum tentu itu yang terbaik di hadapan Allah. Dan sebaliknya, apa yang kita tidak sukai, bisa jadi itu adalah yang terbaik dari Allah dan sesuai dengan yang kita butuhkan.

Sesungguhnya segala sesuatu yang berada dalam ‘genggaman’ kita, bukanlah milik kita sepenuhnya. Mereka hanyalah titipan, yang sewaktu-waktu akan diambil oleh Sang Pemilik, kapanpun bila Ia berkehendak. Bila saat itu tiba, kita tidak akan berdaya untuk menahannya barang sedetikpun.

(DH Devita*)

PS : Disadur dari NGAJI BIKIN KEREN


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

MULIAKAN AKU DENGAN MAAFMU

Ini sebuah kisah anonymous tentang dua orang sahabat karib yang sedang berjalan melintasi gurun pasir. Di tengah perjalanan, mereka bertengkar, dan salah seorang menampar temannya. Orang yang kena tampar, merasa sakit hati, tapi dengan tanpa berkata-kata, dia menulis di atas pasir : HARI INI, SAHABAT TERBAIKKU MENAMPAR PIPIKU.

Mereka terus berjalan, sampai menemukan sebuah oasis, dimana mereka memutuskan untuk mandi. Orang yang pipinya kena tampar dan terluka hatinya, mencoba berenang namun nyaris tenggelam, dan berhasil diselamatkan oleh sahabatnya.

Ketika dia mulai siuman dan rasa takutnya sudah hilang, dia menulis di sebuah batu: HARI INI, SAHABAT TERBAIKKU MENYELAMATKAN NYAWAKU.

Orang yang menolong dan menampar sahabatnya, bertanya, "Kenapa setelah saya melukai hatimu, kau menulisnya di atas pasir, dan sekarang kamu menulis di batu?" Temannya sambil tersenyum menjawab, "Ketika seorang sahabat melukai kita, kita harus menulisnya di atas pasir agar angin maaf datang berhembus dan menghapus tulisan tersebut. Dan bila sesuatu yang luar biasa terjadi, kita harus memahatnya di atas batu hati kita, agar tidak bisa hilang tertiup angin."

Cerita di atas, bagaimanapun tentu saja lebih mudah dibaca dibanding diterapkan. Begitu mudahnya kita memutuskan sebuah pertemanan 'hanya' karena sakit hati atas sebuah perbuatan atau perkataan yang menurut kita keterlaluan hingga menyakiti hati kita. Sebuah sakit hati lebih perkasa untuk merusak dibanding begitu banyak kebaikan untuk menjaga. Mungkin ini memang bagian dari sifat buruk diri kita.

Karena itu, seseorang pernah memberitahu saya apa yang harus saya lakukan ketika saya sakit hati. Beliau mengatakan ketika sakit hati yang paling penting adalah melihat apakah memang orang yang menyakiti hati kita itu tidak kita sakiti terlebih dahulu.

Bukankah sudah menjadi kewajaran sifat orang untuk membalas dendam? Maka sungguh sangat bisa jadi kita telah melukai hatinya terlebih dahulu dan dia menginginkan sakit yang sama seperti yang dia rasakan.

Bisa jadi juga sakit hati kita karena kesalahan kita sendiri yang salah dalam menafsirkan perkataan atau perbuatan teman kita. Bisa jadi kita tersinggung oleh perkataan sahabat kita yang dimaksudkannya sebagai gurauan.

Namun demikian, Saudara-saudaraku, salah seorang guru saya selalu mengajari muridnya untuk memaafkan kesalahan-kesalahan saudaranya yang lain. Tapi ini akan sungguh sangat berat. Karena itu beliau mengajari kami untuk 'menyerahkan' sakit itu kepada Allah -yang begitu jelas dan pasti mengetahui bagaimana sakit hati kita- dengan membaca doa, "Ya Allah, balaslah kebaikan siapapun yang telah diberikannya kepada kami dengan balasan yang jauh dari yang mereka bayangkan. Ya Allah, ampuni kesalahan-kesalahan saudara-saudara kami yang pernah menyakiti hati kami."

Bukankah Rasulullah pernah berkata, "Tiga hal di antara akhlak ahli surga adalah memaafkan orang yang telah menganiayamu, memberi kepada orang yang mengharamkanmu, dan berbuat baik kepada orang yang berbuat buruk kepadamu".

Karena itu, Saudara-saudaraku, mungkin aku pernah menyakiti hatimu dan kau tidak membalas, dan mungkin juga kau menyakiti hatiku karena aku pernah menyakitimu. Namun dengan ijin-Nya aku berusaha memaafkanmu. Tapi yang aku takutkan kalian tidak mau memaafkan.

Sungguh, Saudara-saudaraku, dosa-dosaku kepada Tuhanku telah menghimpit kedua sisi tulang rusukku hingga menyesakkan dada. Saudara-saudaraku, jika kalian tidak sanggup mendoakan aku agar aku 'ada' di hadapan-Nya, maka ikhlaskan segala kesalahan-kesalahanku. Tolong jangan kau tambahkan kehinaan pada diriku dengan mengadukan kepada Tuhan bahwa aku telah menyakiti hatimu. Tolong, sekali pun jangan. Tolong, maafkan.


(Hadi susanto*)

PS : Disadur dari NGAJI BIKIN KEREN


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

KARENA HIDUP HANYA SEKALI...

Seberat apapun beban hidup kita hari ini ...
Sekuat apapun godaan yang harus kita hadapi, Sekokoh apapun cobaan yang harus kita jalani, Sebesar apapun kegagalan yang kita rasai, Sejenuh apapun hari-hari kita lalui

Jangan pernah berhenti berharap pada pertolongan Ilahi ...
Jangan pernah berhenti berdoa kepada Rabbi, Karena harapan adalah masa depan, Karena harapan adalah sumber kekuatan, Karena doa adalah pintu kebaikan, Karena doa adalah senjata orang beriman.

eramuslim - Kita mungkin pernah merasakan betapa tidak berartinya hidup ini, jenuh dan membosankan. Kita seperti manusia yang tidak ada gunanya lagi hidup di dunia. Hari-hari yang kita lalui hampa tiada arti. Kegagalan kita temui disana-sini. Cobaan dan rintangan kita hadapi tiada henti. Beban hidup terasa berat menjerat. Bagi mereka yang tidak punya iman, mengakhiri hidup yang indah ini seringkali menjadi pilihan.

Hidup ini hanya sekali, terlalu indah untuk kita buat sia-sia, karena memang Allah menciptakan makhluknya tidak untuk sia-sia. Betapa bahagianya hidup ini bila kita jalani dengan penuh semangat dan optimisme yang tinggi. Betapa indahnya hidup ini bila hari-hari kita jalani dengan senyum kebahagiaan dan sikap positif memandang masa depan. Betapa sejuknya bila kita sabar menghadapi setiap permasalahan, kemudian kita berusaha memecahkannya dan mengambil ibroh dari setiap kejadiaan.

Sebuah pakupun akan menghadapi masalah pada tubuhnya bila tidak tepat menempatkan diri. Bila ia terletak di tanah basah, suatu saat ia akan berkarat, tidak memiliki guna, terinjak, bahkan mungkin suatu saat akan terkubur bersama karat yang menyelimutinya. Tapi bila kita bisa menempatkannya di tempat yang tepat, kita tancapkan pada sebuah dinding, walaupun ia berkarat, paku itu berguna bagi manusia. Sebagai penyangga, tempat gantungan, atau sebagai penyatu berbagai benda.

Begitu pula kehidupan manusia. Bila kita tidak tepat menempatkan diri kita, tidak sadar siapa diri kita, tidak tahu untuk apa kita di dunia, kita hanyalah seonggok jasad hidup yang terlunta-lunta. Bila kita tidak memanfaatkan potensi yang ada, selalu memandang negatif setiap peristiwa, membiarkan diri berlumur dosa, bahkan tidak tahu dengan Sang Pencipta, kita adalah makhluk hidup yang tidak berguna. Kemudian hidup ini pun terasa berat untuk kita lalui.

Masalah dan cobaan adalah bunga kehidupan orang-orang beriman. Kembalilah kepada Tuhan bila kita menghadapinya agar kita tenang. Lihat, apakah kita sudah tepat menempatkan diri. Jangan menjadi paku yang terletak di tanah basah. Tapi jadilah paku yang dapat menyangga kehidupan manusia. Walaupun kecil, tanpa paku itu sebuah bangunan besar tidak akan pernah berdiri.
Saudaraku, aku tunggu senyummu lagi...

PS : Disadur dari NGAJI BIKIN KEREN


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

ADA KEHIDUPAN SETELAH KEMATIAN...

Kita telah pahami, Islam memandang kematian sebagai suatu realita. Satu tahapan yang pasti akan dilewati setiap manusia. Ketika kematian sudah datang tak ada yang sanggup menolaknya. Islam juga mengajarkan bahwa kematian bukanlah hal yang harus ditakuti, karena itu hanya akan melahirkan kelemahan diri. Ajaran ini seolah-olah terbalik dengan logika teori Darwin tentang ”Seleksi Alam“, namun sebenarnya tidak demikian. Dengan memahami hakekat kematian, agama telah memberi perangkat untuk ”mempertahankan hidup“, yaitu dengan tidak takut mati. Bagaimana sebuah kematian justru merupakan perangkat pertahanan hidup ?

Semua ideologi yg ada di dunia selalu punya konsep tentang surga. Istilahnya bermacam-macam: nirwana, eden, masyarakat tanpa kelas, kehidupan idealis, dsb. Prinsipnya semua menggambarkan tujuan ideal perjalanan manusia. Dalam mencapai tujuan “surga” itu, para “nabi” pemikir ideologi tsb merumuskan jalan-2 ke arah masyarakat yg mereka idealkan. Ajaran atau ideologi itu kemudian disebar luaskan. Seiring berjalannya waktu, para pengikutnya menjadikan ajaran atau ideologi itu sbg hukum kemasyarakatan.

Sayang, ketika sudah sekian banyak bermunculan gambaran tentang “surga-surga”, kita tidak mendapat penjelasan yg lengkap tentang kematian. Ideologi yg hanya dilandasi materialisme memandang kematian sekedar peristiwa rusak dan berhentinya system kerja tubuh. Dia tidak mengenal kehidupan paska kematian. Jangan heran, kalo kemudian konsep mereka tentang “surga” hanya dalam konteks dunia secara materiil saja. Demikian pula ukuran-ukuran untuk mencapai kondisi masyarakat ideal itu hanya bersifat material saja. Sedangkan kematian hanya diletakan dalam kerangka kekalahan dan pengorbanan dengan logika “benefit and cost”.

Berbeda dengan ajaran agama. Agama menempatkan surga sebagai kehidupan setelah kematian. Oleh karena itu, bagi kalangan agamawan, surga hanya bisa didapat setelah melewati tahapan mati. Jadi kematian adalah merupakan ”jembatan” manusia dari kehidupan duniawi ke kehidupan surgawi.

Namun, realitanya justru terbalik ! Banyak agamawan terjebak gambaran surga dengan bentuk-bentuk materialnya yg stagnant bagaikan berhala. Jangan heran, kalo kemudian banyak agamawan yg mengajarkan jalan pencapaian surga justru sbg turunan dari berhala itu. Pembakuan-pembakuan jalan yg berujud standart-standart material, yaitu KUANTITAS (jumlah) ibadah ritual maupun sosial sbg ukuran kesalehan. Dan bukannya mengejar KUALITAS (mutu).

Lihatlah praktek zakat di masyarakat ! Begitu melimpah zakat yg terkumpul namun tidak memiliki sense of crisis sama sekali. Ketika malam takbiran kaum muslim berbondong-bondong membagikan zakat. Namun kaum miskin yg menerima zakat tdk menggunakannya utk mengentaskan diri dari kemiskinan. Sehingga selama ini zakat justru ditempatkan sbg ”pendukung budaya glamour“ yg malah mempertegas perbedaan kelas si kaya dan si miskin ! ini adalah contoh pemberhalaan jalan menuju surga.

Akibat jebakan berhala di atas, hilanglah konsep ”Rahmatan lil alamin“. Tandanya adalah tidak dirujukannya kembali segala bentuk peribadatan sebagai hakekat penyelamatan manusia. Umat dan para ulama pun lebih mementingkan pelaksanaan hukum material agama, ketimbang melaksanakan amanah penyelamatan manusia. Atau setidaknya menutup mata akan kebuntuan jalan keberagamaan dgn realita yg harus diselamatkan. Mereka mematerialkan dunia paska kematian utk ditawar-tawarkan pada manusia yg ingin selamat. Bahkan memaksakannya dgn kekerasan yg justru bertentangan dari prinsip penyelamatan manusia !

Pengetahuan apapun yg didapat dari ketekunan belajar di dunia adalah pengetahuan badaniah, sedang pengetahuan yang bangkit dari pandangan setelah kematian adalah pengetahuan religius ( ”Fihi Ma Fihi“ – Jalalludin Rumi )

Ajaran tasawuf menempatkan dunia setelah kematian sbg pembangkit pengetahuan religius. Hidup di dunia hanyalah sekedar ”mampir“, sedangkan hidup setelah mati adalah kehidupan yang sejati. Barangsiapa bisa membangkitkan pengetahuan dari idealitas tersebut, akan lahir dalam dirinya pengetahuan religius. Mereka-mereka itulah yg mampu menangkap pesan-pesan keagamaan sebagai inspirasi dalam menyelesaikan berbagai persoalan duniawi. Bukan sekedar memahami ajaran agama sebagai Perintah dan Larangan semata, namun menjadikannya sebagai inspirasi penyelamatan manusia. Karena begitulah sesungguhnya religiusitas memberi makna dalam kehidupan: sebatas pemberi inspirasi.

Bangkitlah, Saudaraku Muslim ! Bangsa kita sudah sekian lama collapse oleh berbagai permasalahan konflik elite dan sikap apatis masyarakat.

Ash-sholaatu khoirun minal an-naum ! Jadikan ajakan itu sebagai gairah keberagamaan kita ! Dialah semangat untuk menyelamatkan manusia dengan kearifan religiusitas Islam. Para elite politik santri harus segera menyelesaikan konfliknya dan berbenah diri. Bersamaan itu, mereka kaum awam juga harus segera meninggalkan sikap apatis. Persiapkan diri dalam satu barisan jamaah rapi ! (www.fossei.org)

PS : disadur dari NGAJI BIKIN KEREN



  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

BICARA YANG BAIK ATAU DIAM...

Undzur ma qoola walaa tandzur man qoola –Dengar apa yang dikatakannya dan jangan lihat siapa yang mengatakannya- satu ungkapan lama dari ulama yang sejatinya dimaknai agar kita bersikap kritis terhadap setiap perkataan orang, disisi lain tidak mengambil kebenaran hanya karena memandang kedudukan, status orang yang mengatakannya. Namun, sejalan dengan beragam pemikiran manusia, beragam pula interpretasi terhadap ungkapan tersebut hingga satu titik interpretasi sederhana bahwa tidak perlu melihat siapa yang mengatakannya, karena yang penting adalah apa yang dikatakan orang tersebut. Satu interpretasi yang salah yang terus bergulir yang kemudian tidak jarang dijadikan alasan pembenaran bagi seorang juru dakwah (da’i) untuk tidak tampil dengan penampilan terbaiknya, karena baginya yang penting apa yang akan disampaikannya penuh nilai dan berbobot.

Anda tentu pernah melihat tukang-tukang obat yang beraksi di tengah keramaian, meski tak pernah belajar teori komunikasi –apalagi kuliah strata satu di fakultas ilmu komunikasi- tapi memiliki kemampuan untuk menyedot perhatian orang banyak hingga rela berdiri untuk sekian lama memperhatikan cuap-cuap si tukang obat. Jual obat belakangan, yang penting orang senang dulu dan betah untuk berlama-lama bersamanya. Bisa jadi kita juga semua tahu bahwa obat yang dijual masih perlu dipertanyakan kualitasnya, juga kemanjurannya, tapi pernahkah Anda mempertanyakan pada diri sendiri, kenapa Anda mau berhenti sejenak untuk memperhatikan tukang obat itu sendiri. Dan tidak jarang, pada akhirnya, ada yang membeli obat tersebut.

Setiap marketing yang handal dan pengalaman, tentu sangat mengerti jawabannya. Prinsip dasar yang dipegang selama ini dalam menentukan keberhasilan marketing adalah “The singer not the song”. Pada umumnya, keputusan untuk membeli suatu barang sangat ditentukan oleh emosi si pembeli. Termasuk misalnya, pembeli merasa senang, suka ataupun sebaliknya terhadap penjual. Setiap penjual yang baik, biasanya memulai dengan dan mampu untuk “menjual” dirinya terlebih dulu sebelum menjual produk. Syukurnya, dalam kerangkan budaya masyarakat Indonesia pada umumnya masih lebih berorientasi pada “siapa yang berbicara”. Sebagai contoh lagu dan penyanyi misalnya, orang kita masih memandang penyanyinya, bukan lagunya. Coba Anda perhatikan di kampung-kampung misalnya, tertulis besar-besar pengumuman, “Hadirilah pagelaran musik, menghadirkan Cucum Cumenah, Artis Top Ibukota”. Anda tidak akan pernah mendapati, judul lagu yang ditulis dalam pengumuman tersebut. Apapun lagunya, kalau yang membawakannya adalah artis top yang sudah kondang dan kesohor bahkan menjadi pujaan, tidak penting lagi apakah lagu tersebut jelek atau bagus.

Jadi, sekedar untuk mengembalikan pemahaman sebenarnya dari ungkapan ulama (bukan hadits) diatas, bahwa setiap kita semestinya kritis terhadap apa yang dikatakan orang. Namun jika masih tetap ada yang “keukeuh” menginterpretasikan hal itu sebagai tidak perlu melihat siapa yang mengatakannya, kali ini, seharusnya dipahami bahwa sesungguhnya masyarakat kita sangat betul memperhatikan siapa yang berbicara. Sebagus apapun, sebaik apapun nasihat yang akan anda sampaikan kepada orang lain, luangkan waktu sejenak untuk sekedar memperhatikan penampilan Anda, dan memperbaiki bagian yang kurang sedap dipandang. Dalam pemahaman yang lebih luas, seperti dijelaskan dalam Surat Ash Shaft ayat 2 dan 3, bahwa sebelum mengatakan sesuatu, semestinya kita sudah melakukannya. Sehingga orang lain akan melihat kita sebagai tauladan, bukan sebagai pembual yang hanya pandai mengajak orang, tapi ianya tetap pada keburukan.

(Bayu Gautama*)

PS : Disadur dari NGAJI BIKIN KEREN


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

KENALKAN AKU DENGAN DIRIKU...

Di antara ciri-ciri kebahagiaan dan kemenangan seorang hamba adalah: Bila ilmu pengetahuannya bertambah, bertambah pula kerendahan hati dan kasih sayangnya. Setiap bertambah amal-amal shalih yang dilakukannya, bertambah pula rasa takut dan kehati-hatiannya dalam menjalankan perintah Allah. Semakin bertambah usianya, semakin berkuranglah ambisi-ambisi keduniaannya. Ketika bertambah hartanya, bertambahpula kedermawanan dan pemberiannya pada sesama. Jika bertambah tinggi kemampuan dna kedudukannya, bertambahlah kedekatannya pada manusia dan semakin rendah hati pada mereka.

Sebaliknya, ciri-ciri kecelakaan seseorang adalah: Jika bertambah ilmu pengetahuannya, bertambah kesombongannya. Setiap bertambah amalnya, bertambah kebanggaannya pada diri sendiri dan penghinaannya pada orang lain. Bila semakin bertambah kemampuan dan kedudukannya semakin bertambah pula kesombongannya. (Ibnul Qayyim, Al Fawaid)

Saudaraku,
Suasana apa yang terekam dalam jiwa kita saat membaca kalimat-kalimat di atas? Bilakah kita berada dalam daftar orang-orang yang berbahagia dan menang? Atau, celaka? Smoga Allah swt membimbing hati dan langkah kita untuk tetap memiliki karakter orang-orang yang berbahagia dan menang. Semoga Allah menjauhkan hati dan langkah kita dari karakter orang-orang yang terpedaya oleh ilmu, amal dan kemampuannya. Amiin.

Saudaraku,
Di antara manfaat lain yang bisa kita petik dari petuah Ibnul Qayyim itu adalah, kedalaman ilmunya tentang lintasan dan perasaan-perasaan jiwa. Ibnul Qayyim yang banyak berguru pada Imam Ibnu Taimiyyah itu, berhasil mengenali karakter jiwa kemanusiaannya, sampai ia pun kemudian banyak mengeluarkan nasihat-nasihat yangmaknanya sangat dalam dan menyentuh tentang jiwa.

Saudaraku,
Mengenali diri memang penting. “Man arafa nafsahu, arofa Rabbahu,” orang yang mengenal dirinya, akan mengenal Tuhannya. Begitu kata Ali radhiallahu anhu. Rasulullah saw juda mengajakrkan kita untuk lebih banyak bercermin dan mengevaluasi diri sendiri, ketimbang bercermin dan mengevaluasi orang lain. Orang yang sibuk oleh aib dan kekurangannya, kata Rasulullah lebih beruntung, ketimbang orang yang sibuk dengan kekurangan orang lain.

Dan memang, manfaat menjalani nasihat Rasulullah ini adalah seperti dikatakan oleh Ibnul Qayyim, “Barangsiapa yang mengnal dirinya, ia akan sibuk untuk memperbaiki diri daripada sibuk mencari-cari aib dan kesalahan orang lain.”

Saudaraku, genggam erat-erat tali keimanan kita,
Kenalilah diri. Pahami kebiasaannya. Rasakan setiap getarannya. Lalu berhati-hati dan kontrollah kemauan dan kecenderungannya. Waspadai kekurangannya dan manfaatkan kelebihannya. Berdoalah pada Allah agar Ia menyingkapkan ilmu-Nya tentang diri kita. Sebagaimana senandung do’a yang dilantunkan Yusuf bin Asbath, murid Sofyan Ats Tsauri, “Allahumma arrifnii nafsii….” Ya Allah kenalkanlah aku dengan diriku sendiri….
(muhammad nursani*)

PS : Disadur dari NGAJI BIKIN KEREN


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

RENCANA TUHAN ITU INDAH


Ketika aku masih kecil, waktu itu ibuku sedang menyulam sehelai kain. Aku yang sedang bermain di lantai, melihat ke atas dan bertanya, apa yang ia lakukan.Ia menerangkan bahwa ia sedang menyulam sesuatu di atas sehelai kain. Tetapi aku memberitahu kepadanya, bahwa yang kulihat dari bawah adalah benang ruwet.Ibu dengan tersenyum memandangiku dan berkata dengan lembut: "Anakku, lanjutkanlah permainanmu, sementara ibu menyelesaikan sulaman ini; nanti setelah selesai, kamu akan kupanggil dan kududukkan di atas pangkuan ibu dan kamu dapat melihat sulaman ini dari atas."Aku heran, mengapa ibu menggunakan benang hitam dan putih, begitu semrawut menurut pandanganku. Beberapa saat kemudian, aku mendengar suara ibu memanggil; " anakku, mari kesini, dan duduklah di pangkuan ibu. "

Waktu aku lakukan itu, aku heran dan kagum melihat bunga-bunga yang indah, dengan latar belakang pemandangan matahari yang sedang terbit, sungguh indah sekali. Aku hampir tidak percaya melihatnya, karena dari bawah yang aku lihat hanyalah benang-benangyang ruwet. Kemudian ibu berkata:"Anakku, dari bawah memang nampak ruwet dan kacau, tetapi engkau tidak menyadari bahwa di atas kain ini sudah ada gambar yang direncanakan, sebuah pola, ibu hanya mengikutinya.Sekarang, dengan melihatnya dari atas kamu dapat melihat keindahan dari apa yang ibu lakukan.Sering selama bertahun-tahun, aku melihat ke atas dan bertanya kepada Allah;

"Allah, apa yang Engkau lakukan? "Ia menjawab: "Aku sedang menyulam kehidupanmu." Dan aku membantah," Tetapi nampaknya hidup ini ruwet,
benang-benangnya banyak yang hitam, mengapa tidak semuanya memakai warna yang cerah?"

Kemudian Allah menjawab," Hambaku, kamu teruskan pekerjaanmu, dan Aku juga menyelesaikan pekerjaanKu di bumi ini. Satu saat nanti Aku akan memanggilmu ke sorga dan mendudukkan kamu di pangkuanKu, dan kamu akan melihat rencanaKu yang indah dari sisiKu." (fossei.org)

PS : disadur dari group NGAJI BIKIN KEREN

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS